Rabu, 21 Juli 2010

Butuh yang tenang

Allah Tuhanku Yang sangat ku cinta...
Ya Rabb, aku bersyukur dan berterima kasih dengan segala yang kau berikan didunia ini untukku... Ya Rabb jika sewaktu waktu aku mengecewakanMU atau tidak mengikuti syariat MU, maafkan aku bukan berarti aku tidak mencintaiMU dan tidak menerima karuniaMU apa adanya... Sungguh hati ini hanya mencintaiMU namun aku sudah berusaha semampu ku dan semaksimal mungkin... Dan pada akhirnya aku insyaAlloh akan tetap diJalanMU dan lebih mendekat lagi padaMU hingga waktunya tiba tuk aku bertemu denganMU... Aku mohon naunganMU dan rahmatMu untuk aku dan keluarga dlm menjalani kehidupan dunia dan akherat...
Aku hanya manusia biasa yang tidak menuntut sesuatu dan cenderung mengikuti alur kehidupan sepertinya banyak manusia yang tdk menghargai hal itu namun jika harus dihadapkan dengan hal-hal ga bermanfaat lama-lama aku tidak betah dan membalik arah tapi Alloh :) arah manapun yg aku jalani tetap tujuannya hanya Satu yaitu ENGKAU.

Aku hanya ingin tenang beribadah kepadaMU. Menjalankan ibadah dengan tenang. Jiwa jiwa yang tenang agar bisa khidmat kepadaMU. Agar tidak ada hal yang mengusikku yang ga penting, hal hal yang tidak nyaman. Aku hanya butuh ketenangan untuk beribadah. Teman seperjuangan yang menenangkan untuk meraih ridhoMU. Teman sejalan searah

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Ya Allah… kami butuh terhadap Engkau dan memohon petunjuk-Mu. Berilah kami hidayah untuk melaksanakan kebaikan dan menghiasi diri dengan akhlak mulia. Sesungguhnya tidak ada yang bisa memberi petunjuk kecuali hanya Engkau. Ya Allah, berilah aku petunjuk kejalan menuju haribaan-Mu. Wahai Dzat yang menyelamatkan orang yang rusak, wahai Dzat yang menyelamatkan orang yang tenggelam… wahai Dzat yang agung….

Wahai Tuhanku.. jika segala dosaku menakutkanku,sungguh rasa cintaku kepada-Mu melindungiku.Palingkanlah segala urusanku, Engkau yang berhak mengenai hal itu, curahkanlah keutamaan-Mu kepada orang yang tersesat karena kebodohannya.

Wahai Tuhanku… jika Engkau ingin merendahkanku, niscaya Engkau tidak akan memberi petunjuk kepadaku, Jika Engkau ingin membuka segala keburukanku, niscaya Engkau tidak akan menutupnya, maka matikanlah aku dalam hidayah-Mu dan abadikanlah segala tirai-Mu.

Wahai Tuhanku…. Ikatlah hatiku dengan tali cinta kasih-Mu dan angkatlah aku kepuncak keinginan-Mu, tempatkan aku untuk menempuh jalan seperti orang-orang pilihan-Mu, bukakanlah bagiku segala rahasia ilmu-Mu, hingga aku bisa sampai ke telaga keluhuran-Mu, bertamasya di kebun-kebun keagungan-Mu, dan bisa menunduk dari segala penghianatan nikmat-nikmat-Mu.

Allahumma… jadikanlah hatiku, hati yang menuju kepada-Mu, yang asyik dengan-Mu, ljadikan jiwaku tunduk atas segala karisma-Mu, lepaskan dari segala kekangan agar bisa bebas berkhidmat kepada-Mu.

Allahumma… anugrahilah ketakwaan kepada jiwa-jiwa kami dan bersihkanlah. Sesungguhnya Engkau adalah yang paling baik membersihkannya, Engkau adalah tuan dan penguasanya.

Anonim mengatakan...

Renungan dari Rendra
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya
Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh
Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.

Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
"aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku" dan
menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah...
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

WS Rendra